Kaltim Akan Ciptakan Rekor Dunia

Selasa, Mei 21, 2013


KALTIMTODAY -- Jika tak ada aral, Balikpapan, Kalimantan Timur, akan memecahkan rekor sejarah dunia dengan pengibaran Bendera Merah Putih sepanjang 1000M2 di Pantai Lamaru, Balikpapan, Kalimantan Timur, hari ini, Selasa (21/05/2013)..

Segala persiapan baik tim maupun teritori tempat acara digelar telah dilakukan. Saat ini telah tampak kemah Pramuka, SAR dan BNBP di lokasi acara yang akan ikut meramaikan pengibaran Bendera Merah Putih. Juga tampak tenda representatif disediakan untuk undangan dan pengunjung yang ingin menyaksikan helatan bersejarah ini.

"Kibar bendera merah putih 1000m2 ini akan dinaikkan dengan menara bambu setinggi 67 meter yang disusun dan diikat dengan tali saja. Ini akan tercatat sebagai rekor dunia," kata Supriyadi, ketua pelaksana, dalam rilis pers yang dikirim panitia ke redaksi www.kaltimtoday.com, Selasa.

Pengibaran bendera untuk ciptakan rekor dunia ini dinisiatori oleh SAR Nasional Hidayatullah yang didukung sepenuhnya oleh pemerintah Provinsi Kaltim, sejumlah lembaga dan instansi, dan tokoh lokal setempat. Pengibaran itu juga digelar dalam rangka menyonsgosng acara Silaturrahmi Nasional (Silatnas) dan Milad ke-40 Hidayatullah yang akan digelar di Balikpapan Juni mendatang.

Kibar bendera 1000M2 pagi ini rencananya akan dihadiri oleh Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, Kapolda Kaltim, Pangdam VI Mulawarwan, Deputy Menteri, dan berbagai lapisan dan tokoh masyarakat.

"Persiapan sudah seratus persen" ujar Supriyadi.

Sementara, H.M. Jos Soetomo selaku pemilik Pantai Lamaru memberikan apresiasi dengan menyatakan sangat mendukung acara ini.

"Mudah-mudahan dengan acara ini, menjadi awal kebangkitan, tidak hanya di Kaltim tapi juga bangsa Indonesia. Pancasila kita jalankan, bhinneka tunggal
ika kita tegakkan sesuai ukhuwah Islamiyah" ujar Jos Soetomo saat melakukan sidak sekaligus pengarahan di lokasi Pantai Lamaru.

Ia mengatakan, sejarah Merah Putih adalah heroisme perlawanan melawan penjajah yang kemudian spirit itu tertancap kokoh dari Sabang sampai Merauke.

Hal itu, kata Soetomo, tidak bisa terlupakan sampai kapanpun, sebab perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia dilalui dengan kucuran darah, balutan luka bahkan harus meregang nyawa demi tegaknya merah putih berkibar di bumi pertiwi Indonedia.

"Bendera tidak hanya simbol negara tapi juga sebagai lambang kemenangan dan
kejayaan," tandasnya.

Hati-hati Pencuri Terselubung!

Sabtu, Mei 18, 2013

ADA pengalaman yang cukup berkesan dalam perjalanan ke Yogyakarta akhir pekan lalu. Saya ke Kota Gudeg itu untuk sebuah agenda penutupan kegiatan musyawarah mahasiswa di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM).

Takdir Allah, dalam lawatan itu, saya bertemu dengan Farsijana Adeney-Risakotta. Beliau dosen Pascasarjana yang mengampu Mata Kuliah Antrophologi di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

Di antara sekian banyak tema yang kami diskusikan, lulusan Universitas Amsterdam Belanda itu menyinggung soal kemerdekaan anak-anak Indonesia yang menurutnya sudah sangat terjajah dan tersiksa oleh kedatangan pencuri terselubung.

"Oh ya, siapa gerangan pencuri terselubung itu, bu," tanya saya penuh harap. "Siapa lagi kalau bukan kapitalisme yang membombardir seluruh ruang dan waktu dengan berbagai macam bentuk tawaran iklan yang dalam banyak hal sangat mengganggu konsentrasi belajar anak," jawabnya dengan sangat antusias.

Makanya, aku Adeney, ia selalu mendampingi anak-anaknya ketika menonton televisi. Begitu ada iklan dia selalu bilang ke anak-anak, "Itu bohong, itu bodoh, itu bodoh, dan itu bodoh".

Jika tidak demikian, lanjut ibu keturunan Papua itu, maka memori anak akan merekam iklan sebagai sesuatu yang benar, meskipun sebenarnya iklan tersebut tidak benar-benar dibutuhkan.

"Bagaimana anak-anak kita akan mengenal nilai etika dan norma, sementara setiap hari tontonannya banyak iklan. Berangkat ke sekolah, di mana-mana banyak papan iklan. Di rumah nonton TV iklan lagi. Buka internet, iklan juga. Jadi, mau gak mau, benak anak-anak kita terwarnai ilusi iklan, sehingga imajinasi anak-anak tidak jauh dari iklan-iklan yang dilihat," jelasnya.

Di akhir perbincangan kami, ibu Adeney menyesalkan pemerintah yang menurutnya telah membiarkan situasi seperti ini terjadi bahkan cenderung semakin bebas. Anak-anak kita punya hak untuk dilindungi kemerdekaan hati dan intelektualnya. Anak-anak punya hak untuk selamat dari gempuran iklan, begitu dia menegaskan.

Budaya Iklan
Mungkin sering kita melihat banyak anak-anak bahkan mungkin tidak sedikit juga orangtua yang dalam bahasa kesehariannya terpengaruh bahasa iklan.

Sebagai contoh kecil, "Emang gue harus bilang wow, githu," ungkapan ini amat sering digunakan pelajar dalam keseharian mereka. Atau dalam sebuah slogan iklan rokok yang menurut saya sangat kasar berbunyi; Go A Head. Arti vulgar dari slogan itu: Lakukan saja!. Artinya, merokok saja.

Bahkan di jejaring sosial pun, bahasa iklan dalam contoh pertama itu juga hadir. Misalnya, ada sebuah status yang menarik hatinya, maka akan diberi komentar sedikit lebay sembari menulis dalam kurung (sambil koprol).

Hal semacam itu tidak bisa dihindari. Karena sekalipun durasi iklan tidak sampai 1 atau 2 menit, pengulangan yang dilakukan secara terus-menerus sepanjang hari, di televisi, di koran, di internet bahkan di pinggir jalan, menjadikan otak bawah sadar masyarakat kita menerima iklan itu sebagai sesuatu yang rasional. Pada akhirnya, budaya konsumerisme pun menjadi satu keniscayaan.

Mario Teguh dalam salah satu sesi motivasinya mengatakan bahwa di Paris yang tidak selebar Jakarta hanya memiliki beberapa pusat perbelanjaan saja. Di Jakarta, tidak kurang dari 100 mall telah tegak berdiri. Belum termasuk mall yang masih akan dan terus didirikan. Sedemikian adanya, sehingga budaya hemat yang dulu dihafal dan dihayati anak-anak, kini sudah tinggal kenangan.

Budaya iklan di media Indonesia, disadari atau tidak, diakui atau tidak, telah menggiring wajah generasi bangsa pada perilaku konsumtif, pasif, dan hedonisme. Apalagi dalam beberapa kasus, iklan seolah Tuhan. Mengatakan bahwa orang yang minum ini adalah orang yang pintar, orang yang memakai itu adalah orang yang menggunakanl akal sehat dan sebagainya.

Jadi, iklan tanpa sadar telah mengambil wilayah Tuhan dengan mengatakan ini dan itu. Mungkin karena budaya iklan ini pula yang menyebabkan maraknya perilaku korup di kalangan pejabat seolah tak bisa diakhiri. Sebab, mustahil orang akan korup jika yang dibaca setiap hari apalagi dilihat di mana-mana adalah ayat-ayat suci Al-Qur’an, malu dong sama Tuhan.

Selamatkan Generasi Muda
Bagi orang seperti saya dan mungkin juga mayoritas pembaca tak perlu rasanya membuka ‘Kitab’ Undang-Undang Periklanan di Indonesia. Apa pasal, dampaknya saja sudah sedemikian rupa.

Artinya, Undang-Undang periklanan yang ada, sejauh ini belum begitu pro terhadap kemerdekaan akal dan hati anak-anak bangsa, sehingga iklan merajalela.

Sudah seharusnya pemerintah menertibkan masalah iklan ini, yang kata Fasrijana Adeney Risakotta disebut sebagai pencuri terselubung itu. Janganlah semua tempat diperbolehkan untuk menjadi surga industri dengan bebas memasang iklan di mana pun juga. Cukuplah iklan itu di koran mungkin. Jangan juga jalanan menjadi sarang iklan.

Selain itu, sudah seharusnya pihak produsen yang berhajat mengiklankan produk atau jasanya diwajibkan menggunakan bahasa-bahasa yang asli dengan kualitas produknya. Jangan menggunakan bahasa-bahasa bombastis yang ternyata jauh dari realistis.

Selain akan merugikan konsumen, di sisi lain, akhirnya theologi iklan menghalalkan penggunaan bahasa yang indah, menarik, walaupun jauh dari fakta. Ini sama artinya dengan membangun budaya berdusta. Jelas ini sangat berbahaya.

Tapi sampai kapan dan mungkinkah pemerintah punya kemauan yang kuat akan hal tersebut? Dari pada sibuk berdebat soal apakah pemerintah mau atau tidak, kita sendiri sebagai rakyat mau tidak mau harus cerdas.

Jika tidak benar-benar merasa perlu melihat televisi, sebaiknya dimatikan saja. Bahkan kalau perlu, ketika budaya nonton sudah sedemikian rupa, sebaiknya segera bungkus dan jual saja televisi yang kita punya. Itu jauh lebih aman daripada kita memelihara kotak yang dalam kenyataannya sering mengendalikan pola pikir dan perilaku kita sendiri.

Sebab tidak ada sejarahnya, orang cerdas, berprestasi, apalgi bermanfaat besar bagi kemanusiaan dan kehidupan, itu hadir karena kebiasaan menonton televisi, apalagi sekedar iklan. Sang pencuri terselubung!


IMAM NAWAWI, catatan ke-80. Penulis adalah pendidik dan instruktur nasional Syabab Hidayatullah. Kolom pekanan ini diterbitkan atas kerjasama laman www.kaltimtoday.com dan portal nasional www.akbarnews.com. Sumber foto ilustrasi: Google

The Next Civilization

Sabtu, Mei 11, 2013


BEBERAPA waktu lalu, saya jalan-jalan ke Gramedia Depok. Dalam ketergesaan memburu beberapa buku wacana, saya melihat satu judul yang cukup bombastis, “The Next Civilization, Menggagas Indonesia sebagai Puncak Peradaban Dunia”.

Judul tersebut jelas sangat optimistis jika tidak dikatakan sangat berani. Sebab jika melihat situasi bangsa yang secara empiris, umumnya yang dirasakan rakyat kecil, problematika kebangsaan berupa krisis moral, etika serta ekonomi begitu centang perenang.

Namun, kita patut mengapresiasi buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Nanat Fatah Natsir itu sebagai upaya pergeseran sudut pandang, guna melihat bangsa ini jauh lebih utuh dan tentunya optimistis.

Harus kita akui, ada banyak problem serius melanda bangsa ini. Tetapi soal politik dan kebijakan sebenarnya bukanlah nyawa dari peradaban, tetapi spirit amal, ilmu dan keyakinanlah yang sebenarnya merupakan generator bangkit dan tegaknya sebuah bangsa dan peradaban.

Setidaknya, itulah yang dipahami oleh David Levering Lewis dalam bukunya “The Greatness of Al-Andalus”. Sebuah catatan kritis yang melihat peradaban Islam sebagai inspirator peradaban Barat.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah bangsa ini sudah memiliki atau setidaknya menunjukkan indikasi adanya spirit iman, ilmu dan amal yang menggembirakan? Jika tidak ada maka rekomendasi yang merupakan hasil dari renungan BJ Habibie berikut mungkin bisa kita upayakan bersama.

Menurut Habibie dalam buku Membangun Peradaban Indonesia: Renungan Bacharuddin Jusuf Habibie yang ditulis oleh Firdaus Syam, ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk membangun sebuah peradaban, yaitu HO2; ‘Hati’ (Iman dan Takwa) ‘Otak’ (Ilmu Pengetahuan) dan ‘Otot’ (Teknologi). Itulah syarat utama jika Indonesia ingin maju, sejahtera, mandiri dan kuat.

Dengan kata lain, diskusi peradaban harus diikuti dengan kebijakan pemerintah dan partisipasi masyarakat dalam menciptakan lahirnya kultur iman, ilmu dan teknologi. Jika benar-benar bangsa ini ingin keluar dari kemelut krisis multidimensi yang sangat parah.

Profesor Nanat melihat bahwa bangsa ini jangan terperosok pada diskusi parsial, pesimistis, dan kontra-produktif. Tapi cobalah lihat peluang besar yang sejatinya bisa kita lakukan bersama-sama; sinergis antara para pelajar, mahasiswa, pemuda dan cendekiawan untuk terus-menerus ‘berjibaku’ melakukan kajian hati, otak dan otot.

Barat Sudah Selesai
Sebagian kita mungkin bertanya, apa iya, seandainya kita membangun pusat pembinaan hati, otak, dan otot bisa mengalahkan kemajuan Barat? Pertanyaan ini wajar, terutama jika kita melihat aspek material yang dimiliki Barat, yang menurut sebagian orang Indonesia sangat wah, sangat modern dan canggih.

Tetapi, ketika kita lihat secara lebih mendalam, terutama dari sisi epistemologis-empiris, maka dengan segera kita dapat menyimpukan secara valid bahwa peradaban Barat telah kehilangan mata penglihatannya. Kaki dan tangannya berupa kekuatan ekonomi-militer memang masih tampak gagah. Tetapi, mata mereka sesungguhnya telah lama buta.

Ibarat seorang pelari dalam sebuah kompetisi, sekuat apapun kaki dan badannya, kalau matanya buta, ia pasti akan terlempar dari arena perlombaan. Itulah yang terjadi saat ini pada peradaban Barat. pertanyaannya, di mana kebutaan itu terjadi?

Kebutaan itu ada pada kesalahan fatal yang dilakukan oleh intelektual Barat yang secara pongah mengeluarkan prediksi masa depan yang saat ini justru terbantahkan oleh kebobrokan yang melanda peradaban Barat itu sendiri, pada sisi yang sangat mereka banggakan, yaitu demokrasi dan ekonomi.

Adalah Francis Fukuyama yang dengan gamblang menyatakan dalam bukunya The End of History and The Last Man bahwa pada akhir abad XX tidak akan ada lagi sistem demokrasi dan ekonomi baru yang lebih baik dari apa yang dicapai peradaban Barat.

Prof Nanat menulis seperti ini; “Menurut Fukuyama, setelah Barat menaklukkan rival ideologisnya: monarkhi berediter, fasisme, dan komunisme, dunia telah mencapai satu konsensus yang luar biasa terhadap demokrasi liberal. Fukuyama berasumsi bahwa demokrasi liberal adalah semacam titik akhir dari evolusi ideologi atau bentuk final dari bentuk pemerintahan. Ini sekaligus sebuah akhir sejarah” (The Next Civilization, hlm 48).

Padahal, kalau kita lihat secara jeli, dunia manapun, di tengah hegemoni Barat selama dua abad terakhir, sama sekali tidak benar-benar terbaratkan. Memang seluruh dunia mengakui konsep demokrasi dan kapitalisme, tetapi tidak semua negara benar-benar berdemokrasi apalagi berekonomi seperti Barat.

China salah satu bukti. China tidak saja berseberangan secara ideologi, secara empiris kini China telah maju pesat di berbagai bidang kehidupan. Tidak heran, jika China diprediksi banyak futurolog sebagai satu kekuatan paling potensial yang akan bisa menggantikan posisi Amerika Serikat. Terlebih, jika melihat China yang memang bukan negara vasal Amerika.

Sementara itu, fakta terkini menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak bisa melarikan diri dari krisis ekonomi yang terjadi. Dengan demikian, maka ramalan Fukuyama menjadi terkoreksi dengan sendirinya justru karena penyakit yang tidak dapat diantisipasi Barat. Jadi, yang sebenarnya terjadi bukanlah The End of History tetapi The End of Western Civilization!.

Selamatkan Indonesia
Dengan terbantahkannya prediksi Fukuyama oleh apa yang terjadi di Barat sendiri, maka sebenarnya segala apa yang dibangun oleh peradaban Barat dalam hal-hal yang bersifat filosofis, epistemologis dan logis tidak bisa dipertahankan lagi. Artinya, segera buang jauh.

Karena pada dasarnya, bukan hanya Fukuyama yang telah melakukan kecerobohan. Samuel Huntington juga sama. Teorinya tentang The Clash of Civilizations banyak mendapat sanggahan dari banyak cendekiawan, tidak saja dari Timur tetapi juga dari Barat sendiri.

Bahkan, dalam beberapa hal, Huntington sangat tidak jujur dengan fakta masyarakat Barat yang banyak kontra dengan kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat yang acapkali memporakporandakan negeri orang.

Dari uraian ini, maka jelas, perlu konsep yang teruji, pasti dan upaya segera untuk membangun Indonesia masa depan. Bukan lagi dengan mengekor Barat tetapi menggali inspirasi dari peradaban yang lebih unggul dari Barat, yakni peradaban Islam. Mulai dari sistim pendidikan, ekonomi, budaya hingga pemerintahan. Jika tidak, maka ‘kiamat’ yang sebentar lagi akan menenggelamkan peradaban Barat juga akan kita alami.

Jadi, mari mandiri, gali inspirasi, tempa diri, optimalkan potensi, dan raih prestasi dengan kebeningan hati demi untuk mendapat ridha Ilahi.

Karena, hanya itulah cara paling valid untuk bisa kita bersama-sama menyelamatkan Indonesia. Jika ini terjadi, maka The Next Civilization yang digagas Profesor Nanat, makin nyata di depan mata. Semoga.


IMAM NAWAWI, catatan ke-79. Penulis adalah pendidik dan instruktur nasional Syabab Hidayatullah. Kolom pekanan ini diterbitkan atas kerjasama laman www.kaltimtoday.com dan portal nasional www.akbarnews.com. Sumber foto ilustrasi: National Geographic

"Penjara" Lebih Aku Cintai

Sabtu, Mei 04, 2013


CATATAN saya sebelum ini membahas tentang kebebasan. Dari catatan pekan lalu itu dapat dipahami bahwa ternyata kebebasan yang diusung oleh Barat adalah kebebasan fatamorgana.

Kenapa demikian? Karena Barat membesarkan kebebasan berkehendak atas landasan hawa nafsu, yang pada kenyataannya, kebebasan semacam itu tidak benar-benar bisa mereka dapatkan.

Hal itu tidak terlepas dari sifat dasar hawa nafsu itu sendiri yang tak pernah mengenal kata puas dan cukup. Sebaliknya selalu ingin lebih dan lebih. Diibaratkan orang haus tetapi meminum air laut, tentu haus akan semakin menyiksa tenggorokan. Semakin diminum, semakin haus. Itulah hawa nafsu yang menjadi lokomotif gerakan kebebasan di Barat.

Jadi, energi kebebasan tidak sebaiknya disandarkan pada kebebasan berkehendak tanpa kenal norma dan agama. Kebebasan sebaiknya disandarkan pada iman, akal sehat, logika, dan kemaslahatan bersama.

Fakta Kebebasan
Kalau kita mau jujur, sebenarnya kunci kebahagiaan itu bukan pada pelampiasan kehendak, tetapi kemampuan memenjara hawa nafsu. Mari kita lihat fakta terdekat dalam kehidupan modern ini.

Sepasang pelajar yang memadu kasih di luar pernikahan, mungkin mereka merasakan nikmat badaniah karena melampiaskan hasrat bercintanya. Tetapi apa yang terjadi setelah peristiwa itu? Rasa bersalah, malu, berdosa, bahkan tak berharga mulai merasuk dalam segenap syaraf kesadarannya.

Tetapi apa yang terjadi ketika, pertemuan kembali terjadi. Semuanya hilang, syaraf kesadaran lenyap entah kemana, dan syaraf kenikmatan kembali menguasai hati dan perasaan.

Saat itu, perbuatan dosa itu pun kembali terjadi. Seterusnya dan seterusnya, hingga akhirnya hilanglah syaraf kesadaran itu yang menyebabkan seorang manusia tak memiliki rasa malu.

Rasa bersalah itu kembali terjadi ketika terjadi kehamilan. Dan, saat itu pula terjadi pertarungan argumen yang sangat kuat antara akal dan hawa nafsu. Jika hawa nafsu yang menang, maka aborsi pun akan terjadi. Dan, fakta tentang aborsi di negeri ini, bukan lagi fenomena biasa.

Dalam sebuah laporan disebutkan bahwa jumlah kasus aborsi atau pengguguran kandungan di Indonesia diperkirakan mencapai 2,5 juta kasus per tahun.

Diyakini, tingginya kasus aborsi di Indonesia disebabkan oleh semakin terbukanya perilaku remaja dalam berpacaran karena longgarnya pengawasan orangtua dan keluarga serta kurang berlakunya norma sosial yang dahulu sangat ketat di negeri ini. Termasuk ketidaksigapan pemerintah dalam memfilter tayangan film atau sinetron yang beredar luas di masyarakat.

Memenjara Diri
Kalau ada kesempatan, kemudian kita bertanya kepada mereka yang telah melakukan seks haram, pasti mereka tidak menjawab bahagia, apalagi yang telah berani melakukan aborsi.

Artinya, kenikmatan yang mereka rengkuh tidak memberi dampak kebahagiaan. Mengapa demikian? Jelas, karena kebahagiaan tidak sama dengan kesenangan badaniah.

Kunci kebahagiaan yang sebenarnya terletak pada kemampuan diri memenjara hawa nafsu. Mari kita lihat fakta terdekat dalam kehidupan kita.

Seorang CR7 harus berlatih sangat keras untuk bisa menjadi pemain terbaik dunia dengan gaji yang sangat besar. Tapi sayang, tak banyak yang mengetahui fakta tersebut.

Satu bentuk ketidakcerdasan media kita dalam meliput pesepakbola adalah tidak menampilkan bagaimana latihan yang ditempuh. Umumnya menampilkan pacarnya dan kehidupan glamournya.

Dalam konteks yang lebih luas, kita melihat justru orang-orang besar, mencerahkan dan mampu mewariskan gagasan-gagasan bernilai justru mereka yang pernah dipenjara.

Untuk menyebut beberapa di antaranya adalah, Hamka, Sayyid Qutb, dan Ibn Taimiyyah, ketiganya adalah manusia yang pernah dipenjara di balik jeruji besi. Tetapi, justru penjara itulah yang membuat ketiganya mampu menghasilkan karya-karya terbaik yang menjadi rujukan setiap pecinta kebenaran.

Dalam konteks entrepreneurship, seorang pengusaha sukses bukan yang pandai menghabiskan modal untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan bisnis, tetapi yang mampu mengatur cash flow keuangannya, sehingga modal yang sedikit pun bisa menghasilkan keuntungan yang besar. Tentu, kinerja, komitmen, dan kesungguhan mutlak adanya.

Dengan demikian, maka sebenarnya tidak bisa kita bantah lagi, bahwa untuk bahagia kita harus memenjarakan hawa nafsu dalam diri. Seorang pelajar harus memenjara rasa kantuk dalam kelas, rasa malas dalam belajar, dan rasa bosan dalam membaca.

Jika hal itu tidak juga berhasil dilakukan, maka sekolah hanyalah soal seragam, karena antara datang dan pulang sekolah sama-sama zero alias 0:0.

Memilih Penjara Sukses Kemudian
Mulai sekarang, yuk kita teriakkan dalam hati masing-masing bahwa, "Aku cinta penjara". Aku tidak akan lagi menggunakan waktu malamku untuk menonton televisi yang acaranya tidak membangkitkan semangat, tidak menambah pengetahuan, dan tidak mendorong untuk rajin belajar, taat orang tua, dan cinta ilmu.

Aku tidak akan menghabiskan waktu siangku untuk hal-hal yang tidak berguna, keluyuran, bolos sekolah apalagi pacaran. Aku malu kepada Tuhan, aku takut dihukum Tuhan, dan aku takut sengsara di masa depan. Aku harus belajar sepenuh hati, membaca sepanjang hari, dan berdoa setiap waktu.

Itulah yang dilakukan oleh Nabi Yusuf. Tatkala ia diajak berbuat dosa, dengan segera Yusuf berdoa kepada Tuhannya;

"Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (QS. 12: 33).

Mulai sekarang, mari kita merdekakan diri kita dari segala yang menyuramkan masa depan kita sendiri, menyusahkan keluarga, dan menyakitkan orang tua, yang berujung pada kemurkaan Tuhan. Selamat berjuang dan semoga sukses selalu. []



IMAM NAWAWI, catatan ke-78. Penulis adalah pendidik dan instruktur nasional Syabab Hidayatullah. Kolom pekanan ini diterbitkan atas kerjasama laman www.kaltimtoday.com dan portal nasional www.akbarnews.com.

Warga Indonesia Perbatasan Pilih BBM asal Malaysia

Senin, April 29, 2013

KALTIMTODAY -- Rakyat gonjang-ganjing mendengar pemerintah akan menaikkan harga bensin menjadi Rp 6.500. Sementara itu warga Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menggunakan bahan bakar minyak (BBM) subsidi asal Malaysia untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

BBM asal Malaysia sudah menjadi kebutuhan alternatif masyarakat setempat karena sulitnya mendapatkan BBM asal Indonesia.

"Seandainya tidak ada bensin dari seberang (Tawau Malaysia), mungkin kita di sini tidak bisa apa-apa lagi. Untung pemerintah di seberang tidak melarang juga membeli bensinnya," ujar salah seorang pengecer BBM botolan jenis premium di Sei Pancang Pulau Sebatik, Sukardi. Seperti dilansir dari Antara, Minggu (28/4).

Sukardi mengatakan premium dari negara tetangga itu telah menjadi kebutuhan masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia untuk mengoperasikan kendaraannya setiap hari. Setiap hari, Sukardi mendapatkan suplai premium dari Tawau dan dijual eceran kepada pelanggan dengan harga Rp 7.000 ribu per botol.

"Semua masyarakat Sebatik ini pakai bensin dari Malaysia," katanya.

Penjual premium eceran lainnya, Hamidah mengaku telah puluhan tahun menjual premium asal Malaysia. Hal itu berhubung sulitnya mendapatkan premium dari Pertamina.

Hamidah mengatakan, agen premium, solar dan minyak (APMS) yang berada di Sei Nyamuk jarang beroperasi karena kemungkinan tidak mendapatkan pasokan dari Pertamina. Jadi, untuk memenuhi kebutuhan BBM terutamanya premium, masyarakat setempat harus membeli bensin di Tawau dengan harga 1,5 ringgit Malaysia atau setara Rp 4.650 per liter.

Salah seorang warga, Kamaluddin mengaku keberadaan premium asal Malaysia sangat membantu masyarakat di wilayah perbatasan untuk aktivitas sehari-harinya. Seandainya tidak ada BBM dari Malaysia kemungkinan besar roda perekonomian di Pulau Sebatik akan lumpuh akibat ketiadaan pasokan dari Pertamina.

"Kita bersyukur di sini karena dekat dengan Malaysia sehingga terbantu apabila ada kebutuhan masyarakat tidak bisa didapatkan di dalam negeri maka menyeberang ke seberang," kata Kamaluddin. (mdk/ian)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Inilah Jenis Kebebasan yang Mengancam Itu!

Sabtu, April 27, 2013


BELUM LAMA ini, saya berjumpa dengan sahabat senior. Sebelum berpisah, ia meminjamkan bukunya kepada saya yang katanya ringan dan cukup inspiratif.

Kata teman saya yang luar biasa ini, buku yang dibelinya itu ditulis dengan bahasa sederhana namun sarat makna. Tapi, “Jangan kaget, penulisnya biksu, loh,” demikian ucap sahabat tersebut sembari tersenyum lebar.

Ajahn Brahm, ya itulah nama penulisnya, Sarjana Fisika Teori dari Cambridge Unviersity United Kingdom yang berpindah haluan menjadi biksu di usianya yang ke 23 tahun.

Saya pun tertarik untuk segera membuka lembar demi lembar halaman buku ringan itu. Bahasanya memang memikat. Akhirnya, tibalah saya pada bahasan tentang kebebasan.

Sampai pada bahasan ini saya enggan untuk membuka lembar berikutnya. Ternyata apa yang saya pikirkan dijelaskan di sana, yaitu tentang kebudayaan Barat dalam memandang kebebasan. Menurut Brahm, begitu ia suka dipanggil, di dunia ini sejatinya ada dua jenis kebebasan.

“Ada dua jenis kebebasan yang dapat kita temukan di dalam dunia kita: kebebasan untuk berkeinginan (freedom of desires) dan kebebasan dari keinginan (freedom from desires)”.

Barat, demikian tulisnya, hanya mengenal jenis kebebasan yang pertama saja, kebebasan untuk berkeinginan. Barat menjadikan kebebasan ini seperti agama bahkan Tuhan dalam kehidupan. Sebagian aktivis dan intelektual Indonesia pun ada yang ‘keracunan’ konsep kebebasan Barat ini.

Bahkan, lebih lanjut Brahm menulis, “Dapat dikatakan bahwa paham yang mendasari kebanyakan sistem demokrasi Barat untuk melindungi kebebasan rakyat untuk mewujudkan hasratnya, sejauh mungkin”.

Maka jangan heran, kalau Barat mengaku sebagai peradaban positivistis di sisi lain sangat irasional. Irasional dalam pandangan akal sehat, seperti nikah sejenis, pergaulan bebas, dan eksploitasi wanita. Apakah mereka tidak sadar dengan itu semua?

Mereka sangat sadar. Tetapi inilah namanya kebebasan, bebas berkehendak, melampaui apa pun namanya yang menjadi penghambat. Tuhan sekalipun, kalau menghalangi hasrat maka harus dipinggirkan. Maka sekali lagi jangan heran, kalau banyak orang ‘benci’ dengan syariat Islam atau pun terminologi Islam lainnya.

Padahal, ini kata Brahm, di Barat, orang-orangnya tidak merasa benar-benar bebas. Karena, semakin manusia menuruti impian hasratnya, sejauh itu hidupnya akan terjerembab pada perasaan terpenjara, tertindas dan selalu ingin bebas. Dan, bebas yang dimaksud adalah bebas bertindak sebebas-bebasnya.

Hamid Fahmi Zarkasyi dalam Misykat-nya di Republika (18/4) memberi bukti apa yang dikatakan Brahm. Sekalipun kaum wanita di Barat memperjuangkan kesetaraan gender, faktanya kaum wanita di Barat kondisinya semakin terpuruk. Tingkat perkosaan tertinggi ternyata justru di Barat.

“Menurut satu sumber tingkat perkosaan tertinggi adalah Amerika Serikat, ada yang menyebutkan Swedia, yang disusul Inggris kemudian Jepang.

Di Amerika, perkosaan terjadi setiap 90 detik, sehingga data umum menyebutkan bahwa 22 juta wanitanya telah mengalami perkosaan dalam hidup mereka. Di Perancis 25 ribu wanitanya diperkosa setiap tahun,” demikian tulis Master Filsafat dari Brimingham itu.

Jadi, kesimpulannya sederhana, konsep kebebasan yang diusung Barat sejatinya adalah wajah baru dari penurutan hawa nafsu. Maka, Brahm yang seorang biksu menolak konsep kebebasan jenis pertama ini. Seandainya ia ada di Indonesia, kemudian ditanya soal Miss World, ia mungkin berkata, “Selagi itu dipandang dari kebebasan berhasrat, maka tidak ada gunanya akal dan agama”.

Brahm lebih suka pada jenis kebebasan yang kedua, yaitu freedom from desires, bebas dari berkeinginan. Menuruth Brahm, kebebasan jenis ini hanya bisa ditemukan dalam beberapa ajaran religius.

Mereka menjunjung rasa berkecukupan, kedamaian yang bebas dari berkeinginan. Biasanya, komunitas seperti ini sarat dengan aturan, tetapi anehnya, orang-orangnya justru merasa benar-benar bebas.

Jadi, kebebasan yang akan membawa kemaslahatan bukan kebebasan yang memperturutkan segala hasrat. Tetapi kebebasan yang sepi dari segala macam hasrat ketamakan, keegoisan, dan kebanggaan-kebanggaan palsu dan menipu, itulah yang dipesankan Ajahn Brahm. Sederhana, tetapi rasional dan realistis.

Pelajaran di Pesawat
Logika kebebasan dalam pengertian bebas berhasrat sebenarnya irasional dan tidak empiris. Buktinya sederhana, mari kita lihat fakta di pesawat. Sebelum kita ke bandara, kita sudah harus memesan tiket dengan tujuan tertentu. Untuk mendapatkan tiket, jelas, kita harus membayar.

Kemudian, kita harus tiba di bandara setidaknya dua jam sebelum take off. Setelah itu, di dalam pesawat kita harus mematikan hand phone, memakai sabuk pengaman. Semua itu adalah jenis aturan yang seluruh penumpang pesawat harus mentaatinya.

Tidak diperbolehkan seorang penumpang, siapapun dia, melanggar aturan tersebut. Selain berpotensi membahayakan diri sendiri, juga bisa mengancam keselamatan penerbangan.

Demikian pula dalam kehidupan ini, kebebasan yang menabrak aturan, baik norma, lebih-lebih agama, sebenarnya tidak saja membahayakan yang menyukainya saja tetapi juga bangsa dan negara.

Contoh kebebasan berpakaian. Berbikini katanya hak asasi. Jika negara menerima pendapat semacam ini, maka Miss World boleh. Padahal, kita butuh generasi putri yang cerdas dan berakhlak. Jika pemerintah membiarkan itu terjadi, maka sama saja logikanya dengan seorang bapak yang membiarkan anaknya bermain sepuas hati sampai lupa makan dan lupa pulang.

Sama saja logikanya dengan seorang pramugari yang membiarkan seorang penumpang pesawat bertindak melanggar aturan yang mengancam keselamatan penerbangan.

Artinya, hidup itu penuh aturan. Maka rasional ketika Ajahn Brahm lebih memilih jenis kebebasan kedua, yaitu freedom from desires. Bebas dari berkeinginan. Pemerintah, mestinya paham terhadap masalah-masalah semacam ini. Karena kebebasan yang menabrak norma dan agama, sejatinya adalah awal dari kebinasaan.

Akhir kata, prinsipnya satu, kebebasan apa pun yang menegasikan aturan agama, adalah jenis kebebasan yang patut dicegah. Apalagi, di Indonesia, segala sesuatu hendaknya menghormati keberadaan mayoritas bangsa yang beragama Islam, karena itulah langkah yang paling bisa membantu pemerintah mewujudkan segala macam cita-cita mulianya.

Sayangnya, meskipun Ajahn Brahm yang seorang Budha memilih freedom from desires, nampaknya hal ini tidak menjadi pilihan masyarakat di Myanmar yang mendeportasi dan terkesan ingin menghabisi etnis Muslim Rohingya.

Andai saja, pilihan Ajahn Brahm ini diikuti oleh orang Myanmar yang mayoritas penganut Budha seperti Ajahn, tentu, tragedi kemanusiaan tidak perlu terjadi. Karena semua menahan diri dari keinginan berhasrat yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan.[]



IMAM NAWAWI, catatan ke-77. Penulis adalah pendidik dan instruktur nasional Syabab Hidayatullah. Kolom pekanan ini diterbitkan atas kerjasama laman www.kaltimtoday.com dan portal nasional www.akbarnews.com.










Selamat Datang Kaltara, Irianto Lambrie Jadi Pj Gubernur

Selasa, April 23, 2013

KALTIMTODAY -- Irianto Lambrie yang sebelumnya menjabat sekretaris provinsi (Sekprov) Kaltim dilantik menjadi Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara). Kepastian pelantikan itu diterima Irianto mendadak kemarin sore.

"Mendadak dikonfirmasi. Sore tadi (kemarin) dikabari dan langsung gladi," katanya kepada Kaltim Post kemarin. "Ini saja aku masih repot cari baju (untuk pelantikan)," katanya, tertawa.

Dia baru dapat kabar untuk mengikuti gladi pelantikan pada pukul 15.00 Wita, dari Dirjen Otonomi Daerah, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Tadi pelantikan Irianto digelar pukul 10.00 Wita, di Kantor Kemendagri Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, bersamaan dengan pelantikan sepuluh Pj bupati Daerah Otonom Baru (DOB) se-Indonesia, termasuk Pj Bupati Mahakam Ulu (Mahulu). Pelantikan berjalan lancar.

Menurut Irianto, figur yang ditunjuk Jakarta untuk menjadi Pj Bupati Mahulu adalah MS Ruslan, yang saat ini menjabat Asisten III Sekretariat Kabupaten Kutai Barat. Wilayah kabupaten baru ini mencakup lima kecamatan. Yakni, Long Bagun, Long Pahangai, Long Apari, Long Hubung, dan Laham, yang sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Kutai Barat (Kubar). Sementara Kaltara akan terdiri dari dari Bulungan (ibu kota provinsi), Malinau, Nunukan, Tarakan, dan Tana Tidung.

Sebagai Pj Gubernur Kaltara, Irianto akan akan mempersiapkan pemerintahan. Mencakup lembaga dan personel, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), sampai gubernur definitif.

Pembentukan oganisasi pemerintahan ini nantinya akan dikonsultasikan juga dengan provinsi induk; Kaltim. Sejauh ini, perangkat daerah yang akan dibentuk adalah sekretariat daerah, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Badan Kepegawaian Daerah (BKD), dan instansi lain yang dinilai relevan dengan kondisi Kaltara.

"Selebihnya, ya, melaksanakan fungsi setara gubernur definitif," katanya.

Menurut ketentuan, Pj gubernur atau bupati, bertugas dalam kurun waktu satu tahun untuk mempersiapkan perangkat daerah dan KPU. Jika tugas tersebut belum selesai dalam satu tahun, masa jabatannya bisa diperpanjang atau diganti pejabat baru.

"Tapi umumnya saya melihat tidak ada Pj yang menjabat lebih satu tahun. Kayak Pak Tarmizi Karim (PJ Gubernur Kaltim) dulu kan sekitar enam bulan," katanya. Terkait posisi Irianto saat ini, Sekprov Kaltim, akan di Plt-kan. Jika Irianto sudah menuntaskan tugas sebagai Pj Gubernur, dia tentu akan kembali ke posisinya semula. Sebagai informasi, salah satu syarat menjadi Pj gubernur adalah pejabat eselon I yang masih aktif.

SEMPAT MOLOR
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah menandatangani Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kaltara, November 2012. Awalnya peresmian daerah di utara Kaltim ini dijadwalkan 15 April.

Berjalannya waktu, peresmian ditunda jadi 18 April, hingga kemudian ditunda lagi. Sampai akhirnya ada kabar pelantikan Pj hari ini.  

Irianto Lambrie merupakan satu-satunya nama yang diusulkan Pemprov Kaltim untuk menjadi Pj Gubernur Kaltara. Keputusan akhir merupakan kewenangan Kemendagri. Kepala Biro Perbatasan, Penataan Wilayah, dan Kerja Sama, Setprov Kaltim, Tri Murti Rahayu menyebut, setelah dilantik dan diresmikan, tugas penjabat gubernur Kaltara adalah mempersiapkan kelembagaan dan perangkat daerah.

Urusan ini, ada masa waktu selama enam bulan. Dalam durasi waktu itu juga, Pemprov Kaltim mesti menyelesaikan penyerahan aset Kaltim kepada Kaltara.

Diberitakan sebelumnya, dengan berdirinya Kaltara, maka luas Kaltim yang semula 198.653,23 kilometer persegi berkurang menjadi 127.267,52 kilometer persegi.

Selain melepas sebagian daratannya, seluruh aset Pemprov Kaltim di utara Kaltim juga otomatis jadi hak Kaltara. Secara keseluruhan, aset Pemprov mencapai Rp 18 triliun lebih, sementara yang diserahkan ke Kaltara Rp 1,3 triliun. Ini berarti, hanya 7,2 persen harta Kaltim yang diwariskan ke Kaltara.

Angka-angka barusan masih bersifat sementara, inventarisasi mendalam masih berjalan. Aset terbesar yang dimiliki Pemprov Kaltim didominasi infrastruktur jalan. Nilai jalan jaringan yang dicatat Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kaltim di Kaltara, mencapai Rp 829 miliar.

Sementara dari kabupaten/kota terbesar di Kaltara, aset Pemprov terbanyak ada di Tarakan. Totalnya Rp 503 miliar. Terkecil adalah Tana Tidung dengan total aset Rp 630 juta. Namun demikian, Pemprov masih harus mengumpulkan berkas aset tersebut sebelum jadi kepemilikan Kaltara.

Dalam undang-undang pembentukan Kaltara, lama waktu yang ditetapkan untuk menuntaskan tugas tersebut, dua tahun setelah Kaltara diresmikan. Durasi yang ditetapkan itu tergolong lama. Biasanya undang-undang hanya memberi batasan waktu selama enam bulan.

Bagi infrastruktur seperti jalan atau irigasi, penyerahan juga mesti dilengkapi bukti pembebasan lahan. Ini dilakukan demi menghindari aksi saling klaim nantinya.

Berdasar data Biro Perlengkapan Setprov Kaltim, aset terbesar yang berdiri di tanah Kaltara adalah Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan yang nilainya Rp 483 miliar. Terbesar kedua adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendapatan Daerah Bulungan, nilainya Rp 15 miliar. Sementara terkecil ada pada UPTD Lalu Lintas Angkutan Sungai dan Danau (LLASD) Tarakan; Rp 13 juta.

DELAPAN DINAS
Dalam Peraturan Pemerintah 41/2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, Kaltara masuk dalam kategori yang mendapat skor 40-70. Dalam hal ini, skor Kaltara adalah 61.

Itu berarti, Sekretariat Provinsi Kaltara maksimal memiliki tiga asisten, 15 dinas, dan 10 lembaga teknis. Tahap awal, Kaltara hanya membentuk delapan dinas dan beberapa lembaga teknis.

Dinas Pendidikan, Kebudayaan dan Olahraga, Dinas Kesehatan, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan, Dinas Pendapatan Daerah, Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Pertambangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral, dan terakhir, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM).

Di luar dinas-dinas itu, ada juga lembaga teknis seperti Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Badan Kepegawaian Daerah, Kesbangpol, Badan Penanggulangan Bencana, dan Badan Lingkungan Hidup.


Sumber: Kaltim Post / www.kaltimpost.co.id


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tak Sekedar Nilai (UN), Negara Butuh Akhlak!

Sabtu, April 20, 2013


UJIAN nasional (UN) tingkat SMA dan sederajat sudah berlalu di beberapa wilayah. Tetapi tidak bagi 11 propinsi yang tertunda, termasuk Kalimantan Timur. UN masih akan berlanjut hingga hari Selasa bahkan Rabu mendatang.

Media massa pun tak henti-henti melaporkan perkembangan UN. Mulai dari keterlambatan, kualitas lembar jawaban yang buruk, sampai pada praktik menyontek yang dilakukan secara terbuka oleh peserta ujian dikarenakan pengawas yang sedang "konsentrasi" membaca koran.

UN lebih menjadi hantu pendidikan ketimbang malaikat pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari sikap para siswa yang nampak sangat ketakutan ketika menghadapi UN. Berbagai macam ritual pun dilakukan untuk bisa melawan UN. Mulai dari berdoa bersama hingga mendatangi makam-makam keramat yang dianggapnya bisa membantu dalam menghadapi UN.

Di samping itu, ketika kita perhatikan lebih lanjut, ternyata tidak saja murid-murid yang ketakutan menghadapi UN. Para guru dan kepala sekolah pun lebih ‘ketakutan’ lagi.

Sebab, bagi guru dan kepala sekolah, kelulusan siswanya adalah reputasi dan gengsi sekolah, sehingga mau tidak mau semua murid harus lulus 100%. Jika tidak ingin ditinggal oleh masyarakat.

Padahal pemerintah melalui UN hanya ingin mengetahui kualitas pendidikan secara nasional yang diperoleh melalui data yang akurat. UN inilah yang diyakini dapat memberikan informasi akurat mengenai keinginan pemerintah tersebut.

Salah Kaprah UN
Di sini pemerintah telah terjerembab pada cara berpikir statistik dan kognitif semata, tanpa memperhatikan aspek proses yang terjadi di lapangan. Termasuk mengabaikan aspek mental-spiritual peserta UN.

Artinya, data yang akan diterima Kemendikbud melalui angka-angka hasil UN di seluruh tanah air, secara proses tidak benar-benar mewakili angka itu sendiri. Jadi, data itu berpotensi tidak mewakili kondisi asli pendidikan di tanah air.

Jika sekedar ingin mengetahui kualitas pendidikan tanah air, sebenarnya secara kasat mata sudah dapat dilihat, bagaimana kondisi sekolah, kualitas guru, dan terjaminnya kelengkapan fasilitas pendidikan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia.

Termasuk akses penduduk untuk bisa sampai di sekolah. Jangan dikira, sampai detik ini, masih ada siswa sekolah yang harus menempuh jarak cukup jauh dengan kondisi jalan yang tidak mendukung, terutama di daerah-daerah terpencil yang pada akhir masa sekolah, murid-muridnya juga harus mengikuti UN.

Logikanya sederhana saja, kalau hanya ingin memetakan kualitas pendidikan Indonesia. Tentu saja tidak sama, mulai dari kualitas guru, kelengkapan fasilitas sekolah sampai pada kemudahan akses menuju sekolah bagi murid-murid antara pelajar di Jakarta dengan Papua, Ambon, Kupang, dan pulau-pulau terpencil lainnya.

Tak usah berbicara kelengkapan fasilitas sekolah, akses internet antara Jakarta dengan pedalaman di Sangkulirang atau di Hulu Mahakam saja sudah sangat jauh berbeda. Artinya, pemberlakuan UN dengan alasan untuk memetakan pendidikan tanah air adalah alasan yang terlalu dibuat-buat. Karena pada kenyataannya, mata telanjang pun bisa membedakan dengan akurat, mana sekolah bagus dan mana yang tidak.

Hal ini berarti menunjukkan bahwa, pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud harus mencari terobosan baru bagaimana cara yang efektif untuk memberlakukan UN yang lebih realistis, memudahkan dan lebih mendorong para pelajar untuk lebih giat belajar dan menggapai mimpinya. Bukan malah ketakutan, panas dingin, putus asa, frustasi dan akhirnya ada yang bunuh diri.

Bukan Angka, Negara Butuh Akhlak
Entah apa yang menjadi perhatian pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud. Masalah generasi muda yang begitu kompleks masih dihadapi dengan kebijakan UN yang berorientasi kognisi dan angka belaka. Aspek akhlak, moral dan karakter sama sekali tidak diperhatikan secara utuh.

Mengutip pepatah lama, Thomas Lickona dalam bukunya, Character Matters, menulis, “Moral merupakan landasan yang di atasnya suatu negara bisa beranjak lebih tinggi. Singkirkan moral, serta individu, pemimpin, dan negara akan jatuh”.

Berarti, secara hakiki, negara ini lebih membutuhkan akhlak generasi mudanya ketimbang kualitas kognisinya semata. Sebab orang cerdas yang tidak berakhlak dia akan menjadi koruptor. Dan, orang berpendidikan tinggi yang tidak berakhlak ia akan menjadi hipokrit dan umumnya akan menjadi budak kejahatan.

Theodore Roosevelt dalam karya Thomas Lickona yang lebih populer, Educating for Character, mengatakan, “Pendidikan yang hanya mengutamakan akal dan mengabaikan moral sama saja dengan berinvestasi keburukan sosial yang luar biasa dalam kehidupan”.

Seperti kita ketahui bersama, tingkat kejahatan di kalangan remaja dan pelajar saat ini terus mengalami peningkatan. Bayangkan anak sekolah setingkat SMP saja sudah terpikir dan telah melakukan tindak pemerkosaan.

Belum lagi kehebohan yang baru-baru terjadi, dimana lima orang siswi SMA 2 Tolitoli tanpa rasa bersalah mempermainkan gerakan sholat.

Kita patut merenung sejenak, apa sebenarnya yang dibutuhkan negara ke depan. Orang pintar kah, orang cerdas kah, atau orang yang berakhlak?

Sudah saatnya kita berpikir jujur, bahwa negeri ini tidak kekurangan orang pintar, lulusan dalam dan luar negeri telah tersedia, tetapi kemiskinan masih dimana-mana, korupsi tak bisa diatasi, dan kejahatan moral terus menggila. Sementara itu, berbagai macam kegiatan kontraproduktif datang bertubi-tubi, seperti Miss World.

Nampaknya kita perlu memperhatikan apa yang disampaikan oleh Abraham Lincoln. “Seorang anak akan melakukan apa yang Anda lakukan. Dia akan duduk di mana Anda duduk, dan ketika Anda tidak ada, memperhatikan hal-hal yang menurut Anda penting. Anda mungkin mengadopsi semua kebijakan yang Anda inginkan, tapi bagaimana kebijakan ini dilaksanakan tergantung pada diri anak Anda. Anak Anda akan mengasumsikan kendali atas kota, negara, dan bangsa Anda. Mereka akan bergerak masuk dan mengambil alih gereja, sekolah, universitas, perusahaan-perusahaan Anda. Nasib manusia ada di tangan manusia itu sendiri”.

Alhasil, selama pemerintah tidak benar-benar fokus dalam melahirkan generasi bangsa yang bermoral, maka cara apapun sebenarnya kita sedang mengarah pada lubang kebinasaan. Tidakkah kita perhatikan ucapan Nabi Muhammad yang paling populer, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”.


IMAM NAWAWI, catatan ke-76. Penulis adalah pendidik dan instruktur nasional Syabab Hidayatullah. Kolom pekanan ini diterbitkan atas kerjasama laman www.kaltimtoday.com dan portal nasional www.akbarnews.com.

Distribusi Soal Belum Beres, UN di Kaltim Terancam Diundur Lagi

Rabu, April 17, 2013

KALTIMTODAY -- Sehari menjelang UN SMA/SMK, panitia UN SMA/SMK Pusat di Kemendiknas tidak kunjung beres mendistribusikan soal ke Provinsi Kalimantan Timur. Akibatnya, jadwal UN terancam diundur lagi.

Panitia UN SMA/SMK Provinsi Kalimantan Timur yang bertugas di Bandara Sepinggan, Balikpapan, hingga sore kemarin dilaporkan tidak kunjung menerima kekurangan 107 koli dari 480 koli soal UN SMA/SMK untuk 14 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.

"Soal yang kita terima dari pusat baru sekitar 58 persen saja. Yang datang baru 273 koli, itu pun datangnya kemarin," kata Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Timur, Musahrim, kepada wartawan di kantornya, Jl Basuki Rahmad, Samarinda, dikutip www.kaltimtoday.com dari DetikNews, Selasa (16/4/2013).

Musahrim mengaku tidak mengetahui persis kendala pendistribusian soal UN dari Jakarta. Padahal, menurut informasi, distribusi menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU. Dia menegaskan, pihaknya masih tetap menunggu kekurangan soal hingga malam nanti.

"Dari informasi petugas di Bandara Sepinggan, kalau ternyata hari ini kekurangan soal UN yang kita butuhkan tidak datang di Sepinggan, PT Pos Indonesia tidak menjamin distribusi soal sampai di kabupaten dan kota. Karena itu sudah H-1 pelaksanaan," ujar Musahrim.

"Karena kalau soal baru datang Rabu (16/4/2013) besok (hari ini), sedangkan jadwal ujian dimulai Kamis (17/4/2013) sehari setelahnya, pendistribusian soal itu hal yang mustahil karena kondisi geografis kita," tambahnya.

Apabila tetap dipaksakan untuk didistribusikan, UN SMA/SMK tahun ini di Kalimantan Timur, dikhawatirkan dapat menimbulkan persoalan lebih besar di kemudian hari. Panitia UN Pusat diharapkan benar-benar mengamati persoalan di daerah saat ini agar UN bisa terlaksana sesuai jadwal.

"Dikhawatirkan tiba di kabupaten tapi tidak sampai pendistribusiannya ke sekolah-sekolah penyelenggara. Bisa juga, ada sekolah penyelenggara yang mendapat soal ujian, ada yang tidak," sebutnya.

Musahrim menjelaskan, menyusul tidak adanya pengiriman soal UN yang diterima panitia UN di Balikpapan, saat ini juga Dinas Pendidikan Kalimantan Timur menggencarkan komunikasi ke kabupaten dan kota, untuk menanyakan kesiapan panitia UN di kabupaten/kota untuk menggelar ujian di sekolah-sekolah penyelenggara.

"Kita tanyakan Kabupaten dan Kota, seperti apa persiapan mereka karena mereka yang lebih memahami kondisi daerah masing-masing. Artinya, kalau baru dikirim besok, mungkinkan sampai ke sekolah-sekolah penyelenggara," terangnya.

"Soal Kaltim kembali mengalami penundaan UN, itu kebijakan dari Kemendiknas. Kita di daerah ini, benar-benar hanya menunggu. Kalau ada soal datang, ya didistribusikan segera. Kalau tidak ada soal, apa yang didistribusikan?" tutupnya.

Ujuan Nasional tahun 2013 ini, di provinsi Kalimantan Timur tercatat SMA/MA sebanyak 23.411 siswa peserta, siswa SMK sebanyak 20.439 orang, paket C 2.868 siswa serta 27 orang siswa SMA/LB. (dtk/ybh )



Powered by Telkomsel BlackBerry®

PKS Yakin Menang di Pilkada Kaltim

Minggu, April 14, 2013

KALTIMTODAY -- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meyakini akan melanjutkan tren positifnya dalam menghadapi perkembangan politik yang ada.

Setelah kemenangan di beberapa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), PKS meyakini akan menang di Pilkada Kalimantan Timur (Kaltim) saat mengusung kadernya Hadi Mulyadi.

Kepada kadernya saat menyampaikan orasi politik dalam rangka ulang tahun PKS di Ballrom Hotel Mesra, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), Presiden PKS Anis Matta meyakini, jika kader-kader PKS laik memimpin Kaltim.

"PKS laik untuk memimpin Kaltim dan secara nasional meraih posisi tiga besar nasional pada Pemilu 2014 nanti," kata Anis Matta, Sabtu (13/4/2013) di hadapan ribuan kader PKS Kaltim.

Dalam orasinya yang berapi-api, Anis Matta menyampaikan alasan-alasan mengapa PKS layak menang. Dia mengatakan aroma kemenangan tercium makin dekat.

"Setelah kemenangan di Jawa Barat, Sumatera Utara, Kota Sukabumi dan beberapa daerah lain, saya mendengar kader PKS menang di Pilkada Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan dan Seruyan, Kalimantan tengah," ujar Anis.

Karena itu, ia juga yakin PKS akan menang di Kaltim. Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Kaltim Masykur Sarmian, menyatakan seluruh kader PKS siap untuk mengusung kadernya dalam Pemilihan Gubernur Kaltim tahun ini.

"Untuk mendukung kemenangan tersebut, saya meminta setiap kader untuk bersilaturahmi kepada warga, membantu rakyat dan membuka lapangan kerja bagi warga Kaltim," kata Masykur.

Dia menambahkan, dengan sikap-sikap tersebut, diharapkan kader PKS dapat memberikan sumbangsih atas kemenangan PKS di Pilgub dan Pemilu Legislatif mendatang. (sin/dkw/ktc)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Semangat Menyatakan, Nyatakan Semangat!

Sabtu, April 13, 2013

Oleh Imam Nawawi
"AKU ADALAH pejalan yang pelan, tetapi aku tidak pernah menoleh ke belakang," itulah ungkapan Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16.

Sementara itu, Albert Einstein pernah berkata, "Saya tidak mempunyai bakat khusus, saya hanya sangat ingin tahu".

Dua kalimat tersebut memang sangat sederhana, tetapi tak berarti sempit makna. Keduanya mengandung kematangan berpikir dan kepiawaian hidup yang tak bisa diragukan.

Dalam kesempatan ini kita bisa simpulkan bahwa dalam hidup, seorang manusia hanya perlu motivasi tinggi. Setidaknya itulah yang ditunjukkan oleh Lincoln.

Lincoln terlahir sebagai anak dari tukang kayu yang tumbuh tanpa pengawasan seorang ibu. Keprihatinan ekonomi membuatnya dewasa lebih dini. Hanya setahun belajar, ia mampu membaca, menulis dan berhitung.

Ia pernah menjadi pembelah kayu pagar, prajurit, juru tulis, pegawai kedai, kepala kantor pos, hingga akhirnya, di usia 28 tahun ia resmi menjadi seorang pengacara dan kemudian terpilih sebagai presiden pada 6 Nopember 1860.

Bagaimana dengan Albert Einstein, apakah dia lebih beruntung dari Lincoln? Ternyata tidak. Einstein tidak bisa bicara hingga umur 4 tahun. Ia sempat diklaim sebagai murid yang lambat, meskipun akhirnya terbukti sangat smart.

Ia hanya punya motivasi tinggi untuk mengetahui. Ia tak punya bakat apalagi kecerdasan. Sekali lagi  ia hanya punya motivasi tinggi. Einstein berkata, "Hal yang paling penting adalah tidak berhenti bertanya. Keingintahuan memiliki alasannya tersendiri untuk tetap ada".

Lebih dari itu, Einstein berprinsip, "Jangan berusaha untuk menjadi seseorang yang sukses, tetapi berusahalah untuk menjadi seseorang yang bernilai". Benar, Einstein pun sangat fenomenal, inspiratif, dan tak terlupakan, utamanya dengan rumus E=mc² yang ditelurkannya.

Semua Bisa
Bercermin pada pengalaman dua tokoh di atas, berarti semua bisa berprestasi. Apalagi, kuncinya juga sederhana, dongkrak semangat. Ya, jelas, semua pasti bisa.

Artinya, kesuksesan, kebermaknaan dan karya besar itu tidak ada korelasinya dengan warna kulit, asal daerah, jenis makanan, bahasa, apalagi sekedar bangsa dan negara. Satu-satunya yang membedakan sekaligus menentukan adalah kualitas motivasi.

Sejarah pernah merekam bagaimana sebuah kawasan seluruh penduduknya memiliki motivasi tinggi untuk berprestasi. Bahkan mampu memutar fakta hingga 360 derajat. Itulah kawasan yang dibangun Nabi Muhammad dan didambakan oleh seluruh peradaban dunia, Masyarakat Madani.

Ada seorang manusia bernama Bilal. Sebelum beriman, ia adalah budak yang diperjualbelikan. Tak punya daya apalagi motivasi. Tetapi, setelah hijrah ke Madinah ia tampil sebagai sosok manusia yang mengagumkan. Kesungguhannya dalam menjalani hidup sebagaimana spirit ajaran Islam, mengantarkannya mampu mengemban amanah sebagai seorang gubernur.

Adakah, manusia yang lebih rendah dari seorang budak? Tentu tidak ada, apalagi zaman sekarang, jelas budak sudah tidak nyata lagi. Maka dari itu, jelas, prestasi adalah soal motivasi bukan yang lain.

Dari sini kita bisa lihat secara gamblang bahwa sikap meniru-niru sebagian remaja tanah air terhadap gaya hidup Barat sebagai sesuatu yang kurang bahkan tak bermanfaat. Karena selain menyalahi budaya sendiri, secara psikologi, hal itu tidak berdampak pada terdongkraknya semangat untuk berprestasi.

Padahal, semakin penduduk suatu negeri banyak meniru hal-hal yang kurang bermanfaat dari negeri lainnya yang dianggap lebih maju, maka masyarakatnya akan semakin konsumtif. Dan, masyarakat konsumtif akan menggiring suatu negara pada kebangkrutan.

Usaha Nyata
Setelah mendongkrak semangat (motivasi), tugas berikutnya adalah melakukan usaha nyata alias pembuktian. Kurang bukti apa lagi?

Di zaman kita pun ada bukti nyata. Coba lihat apa yang ditunjukkan oleh Prof. Yohanes Surya, pakar fisika yang telah melahirkan banyak juara olimpiade sains dari anak-anak Papua!

Dalam sebuah acara talkshow di stasiun televisi swasta nasional Yohanes bercerita. "Ketika saya bertemu dengan Gubernur Papua saya meminta kepadanya agar diberi anak-anak yang paling bodoh di Papua".

Sang gubernur jelas kebingungan. Di mana-mana orang mencari anak berprestasi untuk dididik berprestasi. Ini kok, malah anak-anak paling bodoh yang mau dididik untuk berprestasi.

Ternyata benar, anak-anak Papua itu tampil cerdas dan berhasil berprestasi. Bahkan mereka tak canggung lagi duduk dengan anak-anak ibu kota.

Ketika ditanya oleh presenter soal perbedaan belajar di Papua dengan belajar bersama Yohanes, dengan cepat anak Papua itu menjelaskan, "Jangan bicara perbedaan. Di Papua kami tidak mendapatkan guru yang bisa memotivasi. Tetapi bersama Profesor Yohanes, kami hidup dengan motivasi untuk berprestasi, sehingga kami tertarik dan bahagia dalam berusaha menyelesaikan soal-soal".

Hal tersebut tentu sangat menggembirakan bagi kita semua. Betapa, motivasi dan usaha nyata tak bisa dipisahkan. Semoga ke depan, pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan segera melakukan gerakan mendongkrak semangat belajar siswa Indonesia dengan menerapkan sistem belajar yang efektif, produktif dan tentunya, kompetitif.

Untuk bisa kompetitif, kita mesti benar-benar mampu berusaha dengan penuh kualitas. Menurut Henry Ford, kualitas berarti melakukan dengan benar ketika tidak ada yang mengawasi.

Konsisten
Langkah pamungkas adalah konsisten. Jika kita bisa konsisten dengan semangat yang terus menggelora dalam hati, niscaya kita adalah manusia paling bahagia meski tanpa harta benda.

Mahatma Ghandi berkata, "Kebahagiaan adalah ketika apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu katakan, dan apa yang kamu lakukan, semuanya sejalan".

Artinya, mari mulai esok ini kita dengan harapan-harapan tinggi yang kita besitkan dalam hati, kita utarakan kepada orang tua, teman atau pun guru, dan kita tutup esok kita dengan rangkaian kegiatan yang memungkinkan kita sampai pada harapan.

Jangan lagi ada yang tidak berhubungan apalagi bertentangan. Pagi berkata harapan, siang kita melakukan pengingkaran. Akhirnya malam pun kita menutup mata dengan kebimbangan, keraguan dan segala macam bentuk rasa yang mengganggu dan merusak bahkan membunuh semangat sendiri. Fatalnya, kita bisa tidak percaya pada diri sendiri.

Apabila seseorang banyak punya harapan, tetapi tidak diikuti dengan perbuatan yang mengantarkan pada harapan, maka ia akan menjadi manusia yang secara sadar sering mendustakan dirinya sendiri. Jika ini terjadi terus menerus maka selesailah riwayat hidupnya.

Cicero berkata, "Seorang pembohong tidak akan dipercaya walaupun ia sedang mengatakan sesuatu yang benar". Ini berarti, konsisten tidak bisa dipungkiri. Setiap jiwa yang punya semangat, hendaknya ia menunggangi kendaraan bernama konsisten.

Jadi, hanya dengan mendongkrak semangat, seseorang akan tumbuh mengagumkan. Dan, tidak ada cara terbaik untuk mendongkrak semangat selain kekuatan iman. Hanya dengan iman motivasi akan terbebas dari belenggu pretensi dan ambisi.

Napoleon Bonaparte berkata, "Muhammad adalah orang besar, prajurit yang tanpa takut. Dengan beberapa orang saja ia menang dalam Pertempuran Badar, kapten yang hebat, pandai berbicara, negarawan yang hebat, menghidupkan negaranya dan menciptakan bangsa dan kekuatan baru di tengah-tengah gurun Arab".

Dengan demikian, mari kita dongkrak semangat untuk berprestasi yang dilandasi iman demi kemaslahatan kehidupan. Bukan sekedar semangat untuk membangun menara pribadi dengan kerja keras yang mengabaikan Tuhan.

Antara pernyataan, motivasi, dan semangat, harus mewujud dalam bentuk sikap dan gerak. Kita harus semangat menyatakan impian-impian serta motivasi besar kita, dan di waktu yang sama kita terus berusaha mewujudkannya. Semangat menyatakan, nyatakan semangat!

Pesan Filsuf tanah air, Buya Hamka kepada kita semua, "Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja". **



IMAM NAWAWI, catatan ke-75. Penulis adalah pendidik dan instruktur nasional Syabab Hidayatullah. Kolom pekanan ini diterbitkan atas kerjasama laman www.kaltimtoday.com dan portal nasional www.akbarnews.com.

Sukses dan Rasionalitas, Ini Penjelasannya!

Kamis, April 11, 2013

"ANDA tidak cocok bekerja di kawasan perairan, karena Anda lahir pada hari ini, bulan ini, dan tahun ini". Demikianlah segmen dalam salah satu iklan "perdukunan" berkonsep modern di layar televisi.

Sang dukun menerawang peruntungan pasiennya dengan melihat tanggal lahirnya. "Mau tau peruntungan Anda, cukup ketik SMS nama Anda dan tanggal lahir, kirim ke ****," begitu bunyi iklan itu selanjutnya.

Ada lagi kasus lain. Teman saya, seorang mahasiswa, mengalami musibah dan harus rela bertubi tubi tertimpa "tangga". Apa sebab? Tidak lain, karena suatu malam ia keluar untuk suatu keperluan.

Nahasnya, karena jalan bergelombang dan berlobang, ia pun terjatuh dari sepeda motor, karena tidak kuasa mengendalikannya, setelah roda depannya masuk dalam lobang yang cukup dalam. Untungnya, lukanya tidak begitu serius.

Sesampainya di rumah, bukan rasa empati yang ia dapat, tapi justru cercaan terutama dari sang ibu. Yang menggelikan hati sahabat saya tersebut, faktor yang dikambinghitamkan, bukanlah kelalaiannya, melainkan tanggal lahirnya.

"Sekarang ini hari lahir kamu. Makanya, diam di rumah saja, tidak usah ke mana-mana. Ini hasilnya", sulut sang bunda.

Tidak dipungkiri memang, di tengah menjamurnya perangkat dan perkembangan teknologi saat ini, ternyata kepercayaan-kepercayaan macam di atas terasa masih sangat kental pada sebagian masyarakat kita. Banyak hal yang harus digagalkan, hanya karena kurang pasnya perhitungan hari, tanggal dan bulan yang mereka percayai.

Entah betapa banyak orang yang harus mengulur niatnya berniaga, bepergian, berwirausaha, berpindah kediaman, menikah, membangun rumah, dan lain lain, hanya karena terlampau khawatir menyelisihi hitungan hari mereka.

Apa yang sebenarnya mereka khawatirkan? Mereka takut, kalau sampai melanggar apa yang telah ditetapkan tersebut, mereka akan menghadapi kesukaran hidup, kesusahan, kepayahan, dan menjadi gagal. Mereka teramat yakin dan sangat percaya bahwa jika melanggar hari "pantangan" tersebut, segala keburukan dan kesialan akan menjadi 'teman mesra' di kemudian hari.

Benarkah demikian? Saya yakin, pembaca sudah pasti berkesimpulan tradisi-tradisi tersebut sangat sulit diterima oleh akal sehat, termasuk saya. Irasional sekali, memang. Namun faktanya, tidak sedikit yang mempercayainya!.

Sukses itu Logis
Mempertimbangkan segala sesuatu sebelum bertindak, itu penting. Dengannya, akan dapat menimalisir kemungkinan adanya risiko yang tak terduga. Bahkan kalau bisa, menghilangkannya sama sekali dengan berbagai analisa dan forecasting ilmiah dan terukur.

Dengan demikian, melakukan pertimbangan yang benar-benar matang, keberhasilan pun bisa kita petakan dengan begitu gamblang, sehingga semakin memotivasi kita untuk lebih giat lagi dalam mewujudkannya.
Untuk itu, kita perlu suatu "alat bedah" yang saya sebut dengan pisau analisa. Dengannya, kita akan mendapat bayangan akan besar kecilnya peluang untuk menggapai target yang telah dirancang. Ketika hasil proses analisis kita menunjukkan besarnya peluang, maka perlu ditindaklanjuti, hingga akhirnya diputuskan untuk beraksi.

Namun, ketika peluang itu kecil, bahkan nyaris belum bisa diperkirakan, atau dengan bahasa lain, "Jangankan untung, kembali modal saja tidak", maka diperlukan resolusi cerdas dan ilmiah sebagai alternatif untuk melakukan eksekusi. Sebab, memang, gagasan baru selalu dibutuhkan untuk mencegah ketimpangan-ketimpangan.

Ingat, mimpi kita harus pada hal-hal yang realistis, sehingga pertimbangannya pun harus logis. Makanya sukar rasanya kemudian kita merasionalkan akan adanya keterhubungan antar keduanya; tradisi kepercayaan warisan paganisme yang irasional dengan kesuksesan.

Karena itu, akan lebih solutif, bila yang menjadi pertimbangan kita adalah akal sehat, bukan kepercayaan-kepercayaan dari nenek moyang, yang entah berantah asal muasalnya. "Fakkir qobla an ta'zima" (Berfikir dahulu sebelum bertindak), adalah patokan kita.

Kita harus berfikir dan mempertimbangkan segala hal, terlebih dahulu, sebelum memutuskan lalu mengeksekusi. Dalam konteks ini, bukan berarti bermaksud menuhankan akal, namun lebih kepada merasionalisasi setiap masalah yang muncul sebelum memutuskan sebuah tindakan.

Bagi orang berjiwa sukses, waktu laksana pedang, yang ia harus gunakan dengan sebaik mungkin untuk bekerja keras. Sedikit saja salah pertimbangannya, maka pedang tersebut akan menebasnya. Dengan demikian, secara logika, sosok manusia macam ini tidak akan pernah menilai adanya hari-hari sial, sehingga menuntutnya mengundurkan segala acara, atau kesepakatan yang telah dibuat.

Bagi seorang yang menggunakan akal sehat pasti ia bertipe pekerja dan memiliki hasrat sukses yang luar biasa. Potret manusia macam ini memandang semua hari adalah berharga, bahkan lebih berharga dari pada emas (Al-Waqtu atsmanu min adz-dzahabi). Karenanya, ia selalu respek terhadap waktu, tidak pernah menyia-nyiakannya baik untuk bekerja maupun beramal kebajikan.

Sebaliknya, justru ia berprinsip, bahwa kebiasaan menunda-nunda kesempatan akan menjadi bencana bagi dirinya, bila hal itu terus menjadi kebiasaannya. Mengapa demikian? Pertama, karena kesempatan itu, lazimnya, hanya datang satu kali. Sebab itu, harus kita serius dalam menangkapnya. Hilang kesempatan, maka lenyap pula peluang.
           
Selanjutnya, kita tentu paham bagaimana prinsip perjalanan waktu. Waktu yang telah hilang, tidak akan pernah kembali. Ia akan terus maju, tanpa kompromi. Oleh sebab itu, kita harus manfaatkan dengan maksimal atau tidak, waktu akan terus konsisiten berjalan pada pijakannya; terus maju ke depan, dan tidak akan pernah mundur ke belakang, barang sejengkal pun. Karena itu, waktu harus dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya.
           
Bisa dibayangkan, betapa dilematisnya hidup kita, bila terus berpegang pada keyakinan tradisi adanya "hari baik dan hari sial" seperti tersebut di awal tulisan ini. Di satu sisi kita dituntut untuk segera bertindak mengambil keputusan. Namun di sisi lain, kita selalu galau akut karena khawatir dengan "kutukan" hari-hari keramat. Ini baru dalam konteks pertimbangan logika. Belum masuk ke ranah yang lebih fundamental, yaitu agama.

Terhadap hal ini, saya jadi teringat kisah nyata salah satu kerabat. Ceritanya, sang bapak terkena sakit yang lumayan parah. Tubuhnya diserang panas yang amat sangat. Anaknya, yang baru pulang dari perantauan, berinisiatif membawa ayahanda tercinta ke rumah sakit. Namun, ada salah satu sanak keluarga yang melarangnya, karena, menurut perhitungannya, akan berakibat fatal bagi sang-bapak.

Meski mendapat peringatan demikian, sang anak tidak mengubris. Ia lebih memilih menggunakan nalarnya, bahwa ayahandanya harus segera dibawa ke dokter, apalagi melihat kondisinya yang sudah sangat lemah.
Singkat cerita, dengan dibantu oleh kerabat yang lain, sang bapak pun langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk segera dilakukan tindakan medis. Hasilnya, fine!. Kondisi bapak tersebut membaik. Hingga kini, beliau masih dalam kondisi bugar.

So, tidak cukupkah bukti ini mampu mematahkan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat tentang "keyakinan" hari baik dan hari buruk yang tak berdasar itu?.
           
Selanjutnya, di akhir tulisan ini, saya ingin sedikit masuk ke wilayah fundamental untuk mengulas singkat tradisi kepercayaan ini dari aspek ajaran agama. Agama Islam, agama yang saya yakini, sama sekali tidak pernah mengenal istilah waktu sial. Baik buruknya waktu, sama sekali tidak ditimbang dengan suatu kejadian atau perhitungan.

Namun, penilaiannya, lebih kepada cara pemanfaatannya. Ketika hari ini pemanfaatan waktu yang kita miliki lebih baik dari hari kemarin, itu bertanda keberuntungan bagi kita. Karena selain dapat hasil secara lahir, kita juga mendapat amal jika apa yang kita kerjakan itu baik. Namun, ketika hari ini kita loyo, males-malesan, lebih buruk pemanfaatannya dari hari kemaren, maka itulah kerugian.

Dari sini kita bisa menarik benang merah, bahwa kesuksesan itu, sama sekali tidak ada kaitannya dengan mitos-mitos takhayyul yang berkembang. Namun, sukses itu dapat kita gapai apabila sejalan dengan persiapan kita untuk menjemputnya, serta aksi kita di lapangan.


By Robinsah Khairul Hibri - www.kaltimtoday.com





           




























 
© Copyright Kaltimtoday.com 2011-2012. All Rights Reserved.