Sabtu, 29 Juli 2017

Menakar Pilgub Kaltim 2018, Sofyan Hasdam Populer di Kalangan Pemilih Pemula

Cawagub Kalimantan Timur, Andi Sofyan Hasdam, ketika menghadiri gelarana acara Forum Pemimpin Daerah di Manila, Filipina, Kamis, 27 Juli 2017 (Istimewa)

BALIKPAPAN -
Sofyan Hasdam dinilai memiliki tingkat keterkenalan dan popularitas di kalangan pemilih muda dan pemula.

Asumsi tersebut mengemuka dalam diskusi terbatas yang dilakukan Lembaga Kajian dan Madrasah Politik Indonesia (LKMPI) di Balikpapan belum lama ini.

Jika Sofyan berpaket dengan Rita Widyasari yang telah ditetapkan sebagai Cagub Golkar, hal ini dinilai bisa semakin mendongkrak tingkat popularitas tersebut.

LKMPI menilai tingkat kepopuleran Rita dan Sofyan relatif tinggi di kalangan muda. Gagasan-gagasan Sofyan terkait beragam perkembangan anak muda juga dianggap selaras dengan kiprah generasi millenial.

Selain karenan giatnya kedua kandidat ini menyapa kaum muda di banyak momentum, kepopuleran keduanya juga dipengaruhi oleh usia keduanya yang relatif masih cukup muda dibanding dengan calon lainnya.

Kehadiran media sosial dinilai berpengaruh besar terhadap politik elektoral dan ini menjadi salah satu wadah yang bisa dimanfaatkan setiap paket calon.

Karenanya, para kandidat petarung dalam Pilgub Kaltim 2018 mendatang tidak boleh mengesampingkan instrumen ini sebab dipandang perang ide dan gagasan serta kreatifitas di media sosial dapat menentukan hasil keseluruhan dari persaingan politik.

Seperti diketahui, mantan Walikota Bontang dua periode, Andi Sofyan Hasdam, menyatakan siap bertarung di Pilgub Kaltim 2018.

Kalaupun bukan sebagai Cagub, Sofyan mengaku siap saja mendampingi Bupati Kutai Kertanegara Rita Widyasari sebagai Cawagub. Memang diketahui kedua kandidat ini telah sejak lama digadang-gadang akan berpaket untuk Kaltim 1.

Sofyan bahkan telah menggagas beberapa visi yang akan diimplemnetasikannya untuk masa depan Kaltim yang menggembirakan dan menyenangkan.

Mengungkapkan visinya, Sofyan menilai Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur perlu memikirkan ulang prioritas-prioritas pembangunannya dari yang sebelumnya tergantung terhadap rezeki migas yang tidak terbarukan (unrenewable), menuju pada menemukan basis baru perekonomian Kaltim yang terbarukan (renewable).*